About

Mengutip dari " Suwung: The Science of Truth oleh Dewantoro (2022: 281) ", sisi gelap adalah segala bentuk cedera mental atau trauma psikologis pada manusia. Setiap trauma psikologis memiliki perasaan yang berbeda dan umumnya adalah perasaan negatif. Contoh perasaan negatif adalah emosi dalam bentuk kemarahan, kekecewaan, kebencian, dan kesedihan yang ditahan atau tidak disampaikan. Kumpulan emosi negatif ini dapat membentuk sisi gelap manusia. Namun, tidak semua manusia menyadari sisi gelap yang ada dalam diri mereka. Mengutip dari halaman mbgmindfulness (Regan, 2021), di halaman ini, seorang psikolog klinis bernama Claire Nicogossian menyarankan bahwa manusia sering kali tidak ingin mengakui, mengidentifikasi, atau menerima sisi ini. Meskipun setiap manusia memiliki pilihan untuk menerimanya. Berdasarkan penjelasan singkat tentang definisi sisi gelap, semua orang dapat memahami bahwa manusia bisa memiliki sisi gelap. Ini karena, sebagai makhluk psikis, manusia dapat mengalami trauma psikologis.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa memiliki sisi gelap bukanlah aib atau kondisi tabu karena hal itu bisa terjadi pada setiap manusia. Jika Anda memiliki sisi gelap, Anda dapat berusaha untuk menerimanya. Berdasarkan penjelasan singkat di atas, dapat dipahami bahwa sisi gelap adalah sesuatu yang bisa terjadi pada setiap manusia. Tugas manusia sebagai individu adalah mencoba untuk merangkulnya dan berdamai dengan itu agar hidup menjadi lebih tenang. Sisi gelap adalah bagian dari kita yang sering diabaikan, baik secara sadar maupun tidak sadar. Seperti analogi kondisi gelap, sisi gelap manusia umumnya tidak terlihat sehingga banyak orang tidak benar-benar peduli. Tetapi dalam kenyataannya, sisi gelap manusia dapat muncul dan tetap terlihat. Alasannya adalah, sisi gelap dapat terbentuk dari kumpulan emosi negatif dalam diri manusia sehingga memiliki kemungkinan untuk muncul dan tampak ke permukaan.

Memperkenalkan Debut full album pertama " The Frozen Forest Burn " yang dirilis tahun 2023 silam, MALORUM yang mengawali eksistensi-nya sejak 2006 an mungkin terlalu lambat dalam mendedikasikan karya-nya karena melewati segala kesibukan yang panjang. Konseptual Black Metal yang dirancang bernuansa dan menyebarkan atmosfir kegelapan mencekam tanpa kompromi udah diperkenalkan ke-biadab-annya. bermain dan mengkomposisi ciptaan kebencian dalam relung hati terdalam adalah dasar manusiawi seorang manusia yang sudah terlalu banyak dikecewakan dalam segala kebaikannya, simbiosis kehidupan yang menciptakan " Monster " mengerikan dalam berfikir haruslah menjadi bagian dalam kehidupan fana ini. Konsep Black Metal sejak awal memang tidak pernah diciptakan untuk menghibur orang yang hidupnya terlalu nyaman. Ia lahir dari rahim kegelapan, dari kepala yang penuh dendam, dan dari hati yang terlalu sering dipermainkan oleh absurditas kehidupan. Jadi ketika sebuah karya Black Metal dirancang dengan atmosfer mencekam tanpa kompromi, itu bukan sekadar estetika, itu semacam laporan jujur tentang manusia yang sudah terlalu lama menelan kekecewaan. Karena di titik ini, musik tidak lagi sekadar bunyi. Ia berubah menjadi komposisi kebencian yang diracik rapi, dimainkan dengan kesadaran penuh bahwa kebaikan sering kali hanya berakhir sebagai bahan olokan dunia. Sarkasnya sederhana: manusia diajari berbuat baik, tapi dunia membalas dengan pengkhianatan. Maka jangan heran jika dari relung hati terdalam MALORUM konsis melahirkan sesuatu yang lebih gelap dari sebuah ekspresi musikal yang dingin, kejam, dan sangat sadar diri.

Ironinya, monster yang muncul dalam pikiran itu bukan makhluk asing. Ia adalah produk alami dari simbiosis kehidupan itu sendiri: tekanan sosial, ekspektasi moral, dan kekecewaan yang menumpuk seperti karat di jiwa. Dalam lanskap ini, MALORUM hanya bertindak sebagai medium intelektual yang jujur mengartikulasikan sisi paling pahit dari eksistensi manusia tanpa perlu berpura-pura suci. Jadi ketika kegelapan itu disebarkan melalui komposisi yang biadab dan atmosfer yang menyesakkan, sebenarnya kita hanya sedang melihat refleksi paling telanjang dari manusia modern. Bukan setan, bukan mitos, melainkan manusia yang akhirnya berhenti berpura-pura baik, dan memilih merayakan monster yang sejak lama tumbuh diam-diam di dalam kepalanya.

Menandai eksistensinya di tahun 2026, MALORUM kembali muncul bukan untuk basa-basi musikal, melainkan membawa endapan kelam yang sudah terlalu lama difermentasi dalam ruang sunyi. Setelah melalui proses yang tidak singkat, baik secara komposisi maupun ideologis dari semua ampas kegelapan itu akhirnya dipadatkan dalam satu rilisan penuh bertajuk " The Battle Archfiend ". Materi album baru ini tidak mencoba terdengar ramah, apalagi optimistis. Sebaliknya, ia menyajikan lanskap konseptual tentang peradaban manusia yang makin hari makin tampak seperti eksperimen gagal. Kekecewaan kolektif, kehancuran moral, dan kemunafikan sosial diramu menjadi narasi besar yang secara sarkas menyimpulkan satu hal sederhana: ketika dunia terlalu sering mengkhianati idealisme, sebagian manusia akan berhenti berharap dan mulai bersekutu dengan kegelapan.

Secara intelektual, konsep yang dibangun dalam " The Battle Archfiend " tidak sekadar menjual aura gelap sebagai gimmick estetika. Ia justru memotret transformasi psikologis manusia dari makhluk yang dulu percaya pada kebaikan, menjadi entitas yang memilih berdamai dengan sisi paling brutal dari pikirannya sendiri. Sebuah evolusi mental yang, ironisnya, terasa semakin relevan di tengah realitas modern yang absurd. Jadi ketika MALORUM kembali menabuh genderang eksistensinya, pesan yang mereka bawa sebenarnya cukup jelas: kegelapan bukan lagi metafora. Ia telah menjadi pilihan sadar bagi mereka yang terlalu lama menyaksikan dunia runtuh dari dalam. Dan album ini hanyalah dokumentasi sonik dari proses perubahan itu, dingin, pahit, dan tanpa sedikit pun niat untuk menyadari kebenaran yang hakiki.

ENGLISH

Quoting from Suwung: The Science of Truth by Dewantoro (2022: 281), the dark side is any form of mental injury or psychological trauma in humans. Every psychological trauma has different feelings and are generally negative feelings. Examples of negative feelings are emotions in the form of anger, disappointment, resentment, and sadness that are held back or not conveyed. This collection of negative emotions can form the dark side of humans. However, not all humans realize the dark side that exists in themselves. Quoting from the mbgmindfulness page (Regan, 2021), on this page, a clinical psychologist named Claire Nicogossian suggests that humans often do not want to admit, identify, or embrace this side. Even though every human being has the choice to embrace it. Based on a brief explanation of the definition of the dark side, everyone can understand that humans can have a dark side. This is because, as psychic beings, humans can experience psychological trauma.

Thus it can also be understood that having a dark side is not a disgrace or a taboo condition because it can happen to every human being. If you have a dark side, you can make efforts to embrace it. Based on the brief explanation above, it can be understood that the dark side is something that can happen to every human being. The task of humans as individuals is to try to embrace it and make peace with it so that life becomes calmer. The dark side is a part of us that is often overlooked, whether consciously or unconsciously. Like the analogy of dark conditions, the dark side of humans is generally invisible so many people don't really care. But in reality, the dark side of humans can appear and remain visible. The reason is, the dark side can be formed from a collection of negative emotions in humans so that it has the possibility to emerge and appear to the surface.

Introducing their first full debut album "The Frozen Forest Burn" released in 2023, MALORUM, which began its existence in the mid-2000s, may have been too slow in dedicating their work due to the long period of busyness. Conceptual Black Metal, designed to evoke and spread an uncompromising atmosphere of chilling darkness, has already been introduced to its brutality. playing and composing creations of hatred in the deepest recesses of the heart is the human foundation of a person who has been too often disappointed in all their goodness, a symbiosis of life that creates a terrifying "Monster" in thot must be a part of this mortal life. The concept of Black Metal was never created to entertain those whose lives are too comfortable. It was born from the womb of darkness, from a mind full of vengeance, and from a heart that has often been toyed with by the absurdity of life. So when a Black Metal work is crafted with an uncompromisingly chilling atmosphere, it's not just esthetics; it's a kind of honest report about humans who have long swallowed disappointment. Because at this point, music is no longer just sound. It transforms into a neatly crafted composition of hatred, played with the full awareness that kindness often ends up as a subject of mockery in the world. The sarcasm is simple: humans are taught to do good, but the world responds with betrayal. So don't be surprised if from the deepest recesses of their hearts, MALORUM consistently produces something darker than a musical expression that is cold, cruel, and highly self-aware.

Ironically, the monster that appears in the mind is not a foreign creature. It is a natural product of the symbiosis of life itself: social pressure, moral expectations, and disappointment that accumulates like rust in the soul. In this landscape, MALORUM merely acts as an intellectual medium that honestly articulates the bitterest side of human existence without pretending to be holy. So when the darkness is spread thru a savage composition and a suffocating atmosphere, we are actually just seeing the most naked reflection of modern humanity. Not demons, not myths, but humans who finally stop pretending to be good, and choose to celebrate the monster that has long been quietly growing in their minds.

Marking its existence in 2026, MALORUM returns not for musical pleasantries, but to bring forth a dark sediment that has long been fermented in a silent space. After going thru a lengthy process, both in terms of composition and ideology, all the remnants of darkness have finally been condensed into a full release titled "The Battle Archfiend." The material of this new album does not try to sound friendly, let alone optimistic. On the contrary, it presents a conceptual landscape of human civilization that increasingly appears to be a failed experiment. Collective disappointment, moral decay, and social hypocrisy are woven into a grand narrative that sarcastically concludes one simple thing: when the world too often betrays idealism, some people will stop hoping and start allying with darkness.

Intellectually, the concept built in "The Battle Archfiend" does not merely sell a dark aura as an esthetic gimmick. It actually captures the psychological transformation of humans from beings who once believed in goodness, to entities that choose to reconcile with the most brutal side of their own minds. A mental evolution that, ironically, feels increasingly relevant amidst the absurd modern reality. So when MALORUM once again beats the drum of its existence, the message they bring is actually quite clear: darkness is no longer a metaphor. It has become a conscious choice for those who have long watched the world collapse from within. And this album is merely a sonic documentation of that process of change, cold, bitter, and without the slightest intention of acknowledging the ultimate truth.

Regards

Malorum

Design by Herry SIC Powered By LOSTINCHAOS